Cisarua, Kompim – Ajat Rochmat Jatnika selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi hulu dan hilir demi keberlanjutan air, tanah, dan udara. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Telaga Saat, Puncak, Cisarua, Jumat (5/6/2026). Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang berfokus pada kelestarian alam secara strategis.
Ajat Rochmat Jatnika menjelaskan bahwa secara ekologis Kabupaten Bogor memiliki peran penting sebagai wilayah hulu dan hilir, sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu. Ia menekankan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. “Ketika hilir kita sentuh, maka hulunya juga harus kita jaga. Sumber kehidupan kita ada di hulu, terutama air, sehingga kualitasnya harus terus kita tingkatkan,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai aksi yang dilakukan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari langkah konkret Pemerintah Kabupaten Bogor dalam memperbaiki kualitas lingkungan. Mulai dari penebaran ikan indukan yang disesuaikan dengan habitat, penaburan eco enzym untuk meningkatkan kualitas air, hingga pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Sekda Bogor juga menyoroti pentingnya edukasi lingkungan yang bersifat aplikatif agar masyarakat dapat langsung merasakan manfaatnya. Penanaman pohon berukuran besar, seperti pule air, dilakukan agar hasilnya dapat terlihat dalam jangka pendek sehingga meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Bogor juga memperkuat kelembagaan masyarakat lewat pembentukan Forum Kampung Ramah Lingkungan (KRL). Forum ini diproyeksikan mampu mendorong pengelolaan sampah, limbah, serta pelestarian air dan tanah secara mandiri.
Guna mendukung gerakan tersebut, Ajat mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha dan media, untuk aktif berkolaborasi. Ia menekankan bahwa Hari Lingkungan Hidup harus menjadi pemantik aksi nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial demi investasi lingkungan jangka panjang. (ra – ed.swa)