Cibinong, Kompim – Ajat Rochmat Jatnika Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, menghadiri gelaran bergengsi Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Setda, Jumat (8/5/2026).

Ajang penghargaan bagi insan pewarta foto jurnalistik ini telah memasuki tahun ke-16 sejak pertama kali dihelat pada 2009 silam. Kehadiran Sekda Ajat dalam kegiatan ini menunjukkan dukungan penuh Pemerintah Daerah terhadap peran krusial pers dalam pembangunan bangsa.

Dwi Pambudo, Ketua Umum PFI Pusat, dalam sambutannya menyampaikan bahwa APFI bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan perayaan atas dedikasi para jurnalis foto yang bekerja di garis depan.

"Hari ini kita merayakan karya, keberanian, dan dedikasi para pewarta foto yang hadir di titik-titik paling penting kehidupan bangsa. Mulai dari bencana, konflik, krisis sosial, peristiwa politik, hingga denyut keseharian rakyat," ujar Dwi.

Ia menekankan bahwa meskipun bekerja di bawah tekanan dan risiko besar demi memastikan publik melihat kenyataan apa adanya, tantangan profesi jurnalis masih sangat nyata. Isu kekerasan, intimidasi fisik dan digital, hingga tekanan hukum masih menjadi momok bagi kebebasan pers saat ini.

Lebih lanjut, Dwi menegaskan bahwa kebebasan pers adalah amanat demokrasi yang harus dijaga bersama dengan landasan etika dan integritas.

"Pewarta foto bukan hanya pemburu gambar, mereka adalah penjaga memori kolektif bangsa. Foto yang baik tidak hanya menangkap momen, tetapi menyalakan kesadaran, menggerakkan empati, dan mendorong perubahan," pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Bogor, dalam hal ini menilai, penyelenggaraan APFI 2026 ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus simbol kolaborasi yang harmonis antara pemerintah dan insan pers. 

Melalui lensa, mereka melukis harapan, perjuangan, kemenangan, dan kemanusiaan. Setiap foto jurnalistik yang dihasilkan bukan sekadar visual yang memikat, tetapi juga menjadi dokumen sejarah, alat advokasi, serta jendela empati bagi masyarakat.

Anugerah Pewarta Foto Indonesia, memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada karya-karya terbaik anak bangsa, karya yang tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga kuat dalam nilai jurnalistik, bernapas kemanusiaan, serta mampu memberikan dampak sosial yang nyata. (nps – ed.swa).