Cibinong, Kompim – Rudy Susmanto, Bupati Bogor, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas dan ketahanan wilayah. Hal tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) Tahun Ajaran 2026 di Pendopo Bupati Bogor, pada Senin (6/4/2026).
Kunjungan yang rencanannya akan berlangsung hingga 9 April 2026 ini, merupakan bagian dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL), dengan tema "Sinergitas Komponen Bangsa dalam Penanggulangan Bencana Guna Memperkuat Ketahanan Nasional". Hadir dengan fokus membekali para calon pemimpin TNI dalam mitigasi, tanggap darurat, dan penanggulangan bencana di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Rudy memaparkan kondisi geografis dan demografis Kabupaten Bogor yang sangat dinamis. Dengan luas wilayah hampir 300.000 hektare dan populasi lebih dari 6 juta jiwa, Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.
"Kabupaten Bogor memiliki kompleksitas tinggi, mulai dari tata kelola wilayah 40 kecamatan hingga koordinasi lintas wilayah. Selama tahun 2025 saja, tercatat 1.826 kejadian bencana, termasuk banjir dan tanah longsor besar di wilayah Bogor Barat," ujar Rudy.
Lebih lanjut, menanggapi serius bencana yang terjadi, Pemerintah Kabupaten Bogor telah menetapkan standar respons cepat dalam penanganan pascabencana. Beberapa poin utama yang ditekankan Rudy ialah terkait hunian sementara, tenda pengungsian hanya digunakan maksimal 2x24 jam. Setelah itu, korban difasilitasi rumah sewa atau bantuan Rp700.000/bulan.
Hunian tetap (huntap), target pembangunan huntap selesai dalam 6 bulan. Hingga 2025, sebanyak 4.271 unit telah dibangun, dengan 2.013 unit sisanya menjadi prioritas penyelesaian tahun ini.
Aksesibilitas wilayah, melalui program Karya Bakti TNI, Pemkab Bogor membuka akses di wilayah terisolir seperti Malasari, Cipelang, dan jalur Jonggol - Sukamakmur sebagai jalur evakuasi bencana.
Rudy pun menegaskan bahwa kunci utama dalam menghadapi tantangan di Kabupaten Bogor adalah komunikasi dan sinergi. Ia percaya bahwa Kabupaten Bogor tidak bisa dibangun oleh satu kelompok atau golongan saja.
"Prinsip kami, Bogor tidak bisa dibangun hanya oleh satu suku, satu agama, atau kelompok tertentu. Bogor harus dibangun dengan semangat kebinekaan oleh orang-orang yang memiliki rasa cinta terhadap Kabupaten Bogor," tegasnya. (nps – ed.swa).