Cibinong, Kompim - Ajat Rochmat Jatnika, Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, mendorong pengembangan budidaya bawang merah dan putih di Bogor menerapkan pendekatan ilmiah. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan penentuan kebijakan berbasis kondisi riil tanah dan iklim, bukan sekadar intuisi.

Ia mengatakan kajian perlu mencakup kesesuaian iklim, kondisi tanah, lokasi, hingga aspek pengelolaan lahan. “Kita berbasis ilmiah, berbasis keilmuan. Pemerintah daerah insyaallah akan aman. Kalau berbasis intuisi biasanya tidak aman. Ini langkah awal kita bagaimana melakukan loncatan-loncatan,” ungkap Ajat.

Sekda menjelaskan, Kabupaten Bogor memiliki peluang untuk mengembangkan kedua komoditas tersebut dengan memperhatikan karakteristik wilayah. Bawang merah relatif dapat dibudidayakan di berbagai wilayah, sedangkan bawang putih membutuhkan kondisi geografis tertentu. 

“Bawang putih itu di Kabupaten Bogor tidak masalah, kecuali bawang putih yang mempunyai karakter tersendiri kaitan dengan lokasi yang harus di ketinggian kurang lebih 800 mdpl. Betul-betul di area pegunungan. Kalau bawang merah bisa di mana saja,” ujar Ajat.

Berikut adalah versi berita yang telah dihaluskan dan diefektifkan agar lebih mengalir, lugas, dan terstruktur dengan standar jurnalistik yang baik:

Dari sisi pasar, pengembangan bawang merah dan bawang putih di Kabupaten Bogor memiliki prospek cerah seiring jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 6,1 juta jiwa. Potensi pasar yang masif ini menjadi peluang strategis untuk meningkatkan produksi pangan lokal sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Jumlah penduduk Kabupaten Bogor melebihi beberapa provinsi. Ini potensi pasar yang sangat besar, dan saya kira kebutuhan akan bawang merah serta bawang putih di sini sangat tinggi,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menimba ilmu dari Kabupaten Majalengka yang telah lebih dulu sukses mengelola komoditas hortikultura tersebut. Pembelajaran ini bertujuan untuk mempelajari praktik terbaik (best practice) yang dapat direplikasi dan disesuaikan dengan kondisi wilayah Kabupaten Bogor.

“Kami ingin berbagi pengalaman dan mengetahui success story dari Majalengka. Ini menjadi modal awal untuk melihat sejauh mana pola tersebut bisa diterapkan di tempat kita,” jelas Ajat.

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Bogor akan melakukan kajian mendalam yang mencakup analisa iklim, cuaca, kesesuaian lokasi tanah, hingga kepemilikan lahan—baik aset PTPN, Pemda, maupun masyarakat. Hasil kajian komprehensif ini nantinya akan menjadi pijakan dalam menyusun strategi pengembangan bawang secara berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan daerah. (ra– ed.swa).